Malam ini, aku terbangun dengan suatu perasaan membuncah yang tak bisa aku bendung.
Rindu.
Hari ini, sudah berhari-hari sejak Selasa kelabu itu, sejak kita menutup sebuah pembicaraan panjang di teras depan yang juga mengakhiri hubungan yang belum sempat terajut lama ini. Ingin sekali aku memberanikan diri untuk menanyakan kabarmu. Apakah kau baik-baik saja? Bagaimana kuliahmu, keadaanmu, kehidupanmu? Bagaimana dunia yang sebenarnya di bangku kampus? Selama ini, aku berusaha untuk kuat, tertawa-tawa dan menjalani hidup seperti biasa. Kemarin aku terlihat baik-baik saja. Tidak ada lagi curhatan panjang tentangmu setiap hari bersama sahabat-sahabatku. Tidak ada lagi aku yang begitu ketakutan membayangkan hari kedepannya tanpamu. Tidak ada momen-momen saat aku mendadak mengingat sesuatu yang berkaitan denganmu atau sesuatu yang pernah terjadi sebelumnya.Semuanya berjalan seolah-olah aku tidak merasa sedih dengan perpisahan ini.
Yah, tapi tak bisa terpungkiri. Namanya juga putus cinta, satu paket dengan air mata, curhatan dan sakit hati. Tapi mungkin kau tak akan pernah tau tentang itu. Karna jalan pikiranmu terus menatap kedepan melawan boomerang untuk menoleh kebelakang.
Sejujurnya ada sisi dari diriku yang merasa baik-baik saja karena memang kita mengakhiri semuanya dengan baik-baik. Kemarin, kita memang tidak bilang "putus", Kita berdua lebih memilih kata-kata "jalan sendiri-sendiri dulu untuk memperbaiki diri masing-masing, berubah untuk jadi lebih baik dulu, untuk diri sendiri dan untuk masing-masing".
Tapi, memang kekosongan dan kehilangan tetap saja terasa. Tetap terasa meski terkadang aku selalu berusaha mengisi itu semua dengan kegiatan-kegiatan yang dapat menyita seluruh waktu yang kupunya, agar tak ada saatnya untukku sedikit saja kembali mengenangmu. Dan, aku memang bisa melakukan semuanya dengan tersenyum. :)
Aku tau kamu disana akan seribu kali lebih mudah untuk melupakan, memulai dengan yang baru dan mengubur rasa yang pernah ada. karna kamu lebih dulu memulai dengan suasana yang berbeda, suasana yang sama sekali tak ada kenangan tentang cerita kita. Sementara aku? harus menunggu jarum jam terus berputar hingga waktu untuk memulai dengan hal yang baru itupun datang.
Untuk sekarang, aku tahu yang bisa aku lakukan hanya menjalani hidup ini dengan sebaik-baiknya. Aku memang akan selalu teringat kamu pada saat aku mendengarkan Abdul and the coffee theory, atau melihat barang bermerk machbeth. Atau segala sesuatu yang identik dengan sosokmu yang akan kuhindari. Tapi, aku memang harus bisa membenahi diri dulu. Untuk jadi lebih baik, buat kamu, tapi lebih penting lagi, buat diri aku sendiri.
Untuk seseorang yang aku sayangi,
Dulu, sekarang, dan selalu






0 komentar:
Posting Komentar