Gelap, airmata, pupus, jatuh, sakit, luka, penyesalan ...
Pernahkah berada dalam keadaan dimana semua terasa begitu kejam terlihat?
Pernahkah merasa seolah-olah semuanya begitu hitam dan kelam?
Aku pernah. dan jangan tanyakan betapa sakitnya lara terasa dalam batin, karena aku sendiri tak tau pasti apa aku masih bisa merasakan nyawa yang diberikan sang pemberi hidup selama ini?
Pesakitan yang begitu dalam membuat kesabaran diuji sampai batas mana, keimanan yang dipertaruhkan dan keyakinan yang dipertanyakan. Perjuangan selama 18 tahun ini berakhir tangis yang tiada berujung
Aku hancur sehancur-hancurnya
Keadaan yang membuat aku tak bisa berpikir jernih, keadaan yang merobohkan semua pondasi keyakinan kokoh yang telah lama kubangun dan keadaan yang menjauhkanku dari orang-orang yang selama ini menjadi pelengkap hari-hariku. Sahabat yang tadinya kupikir telah menyatu menjadi separuh bagian dari jiwaku, nyatanya lebih tega dari yang aku kira. Sahabatku meninggalkanku dalam keadaan yang dia tau begitu mengguncangku. Teman-teman yang pada waktunya pergi menikmati suasana baru untuk menjemput masa depan tanpa ada satupun untuk ikut peduli pada kesakitanku. Sosok jiwa yang kupercayai dapat membalut luka tiap kali aku jatuh telah menjelma menjadi iblis jahat yang memporakporandakan perasaanku, yang menggali luka baru pada hati yang sebelumnya pernah disembuhkannya.
Andai bisa, aku ingin terpejam dan tak terbangun lagi. Aku takut lalai mengendalikan keadaan jiwaku. Aku ingin menghentikan waktu cukup sampai saat ini saja agar semuanya tak berkelanjutan lagi. Aku ingin menangis tanpa tiada terhenti karna hanya dengan cara itulah aku bisa meluapkan semua kesalku
Hingga Tuhan kembali mengulurkan tangan-Nya untuk membantuku bangkit, mama untuk kesekian kalinya memberikan pelukannya dan papa tiada lelah membesarkan hatiku menyakinkan kalau semua akan baik-baik saja. Aku kembali tegak berdiri melawan hempasan badai yang tiada henti menerjang. Demi tiga alasan yang masih setia bersamaku saat aku berada dalam puncak keterpurukan, demi tiga kekuatan besar yang harus kubanggakan karena hanya merekalah yang masih berada disisiku saat aku berada dalam keadaan apapun.
Sebelumnya aku tak pernah menyangka aku bisa sekuat ini, ketegaran yang tak pernah kupercayai sendiri kini menjadi duniaku. Aku yang tegar, aku yang kuat, aku yang lebih dari apapun yang mereka pikirkan dan aku yang tak akan berhenti berusaha sampai titik darah terakhirku
Tuhan, mungkin aku terlalu banyak mengeluh hingga ujian berat ini menyadarkanku bahwa kuasaMu lah yang mengizinkan segalanya terjadi. Aku terlalu lama melayang di dalam langit-langit kemewahan hingga aku lupa untuk menginjak tanah
Mama masih menjadi ibu peri yang dikirim Tuhan untuk mengusap airmataku tiap kali aku tak bisa membohongi perasaanku sendiri tentang kesedihan. meski jauh di hati mama, aku bisa melihat ketidaksanggupan sosok ibu melihat keadaan buah hatinya kacau balau hingga nyaris hilang akal
Papa adalah malaikat hebat yang diberikan Tuhan untuk menopang segala kepedihanku dalam semua ucapan yang selalu beliau lantunkan agar keraguanku musnah. Tapi sayang, papapun tak pintar menyembunyikan kekecewaannya saat putri kebanggaannya jatuh dan belum berhasil mewujudkan keinginannya. Lihat papa, apapun yang kumau dan apapun yang ingin kupunyai selalu dipenuhi selagi beliau mampu
Finally,
Namaku Nysha. Aku kuat karna aku yakin Tuhan selalu bersamaku. Aku beruntung karna aku mempunyai dua orang malaikat yang menyayangiku dan aku berjanji, kan kuusahakan sebisaku agar mama papa ku bangga memilikiku
Oke. kini? saatnya menyiapkan amunisi untuk perang di kesempatan kedua. Bismillah






